Deklarasi Pencegahan Stunting

Minggu, 09-Desember-2018 52 viewer


TEMPURAN, RAKA- Civitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (Unpad) Deklarasi pencegahan stunting di Tempuran, Minggu (9/12). Selain di bacakan oleh Dekan Fakultas Kedokteran Unpad dr Med Setiawan, deklarasi juga diikuti perwakilan staf kepresidenan, bupati, siswa dan warga setempat.

Stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan ia lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya. Banyak yang tak tahu kalau anak pendek adalah tanda dari adanya masalah pertumbuhan si kecil. Apalagi, jika stunting dialami oleh anak yang masih di bawah usia 2 tahun. Hal ini harus segera ditangani dengan segera dan tepat. Pasalnya stunting adalah kejadian yang tak bisa dikembalikan seperti semula jika sudah terjadi.

Ketua panitia Kampanye Zero Stunting dan deklarasi pencegahan stunting atau kerdil, dr Masriski Agun mengatakan, kegiatan para mahasiswa dan civitas akademika Unpad, sudah berjalan 6 bulan, ada 30 kegiatan TPM yang dilakukan, mulai dari pencegahan stunting, bidang olahraga, kebidanan dan kesehatan anak. Pada 6 Desember sebutnya, pihaknya baru mulai dilayanan Poned dan penyuluhan, kemudian di tanggal 8 Desember pihaknya bersama 300 mahasiswa Stikes dan siswa sekolah terus melakukan penyuluhan. Semuanya diterima dengan baik, tentu saja ini tidak lepas dari peran serta seluruh fakultas dan juga Pemkab Karawang yang sudah bersedia memberikan peluang untuk pihak Unpad, berkontribusi dan memberikan pengabdian langsung di masyarakat. “Ada 30 TPM kegiatan yang kita lakukan, alhamdulillah semua berjalan lancar,” ujarnya.

Dekan fakultas kedokteran, dr Med Setiawan mengatakan, kegiatan civitas akademika yang dinamai academic health System (AHS) ini adalah rangkaian yang dimulai sejak 2017. Awalnya dilakukan mulai dari Jabar Selatan, dan merambah ke Bekasi, tepatnya Muara Gembong, dan sekarang sebutnya di Tempuran, Kabupaten Karawang, karena kecamatan ini adalah representatif masalah dan capaian kesehatan yang menurutnya perlu intervensi kesehatan. Ia Berharap, kegiatan ini tak terhenti lewat pencanangan dan deklarasi, tapi digarap dan bisa berkelanjutan, utamanya ini dikaitkan dengan program pendidikan profesi. “Kita sedang mengupayakan dukungan visi penguatan Tri Dharma, khususnya pada kualitas bidang kesehatan,” katanya.

Bupati Karawang dr Cellica Nurachadiana mengatakan, di Karawang ada 13 balita yang diindikasikan mengalami stunting. 13 balita tersebut tersebar di 13 desa, ia check ternyata 10 desa yang di kunjungi menolak dan membantah ada stunting, dan 3 desa membenarkan. Stunting ini jadi prioritas pusat, maka perlu intervensi semua pihak, baik kesehatan dan stakeholder lain. Karenanya, Karawang berupaya terus meningkatkan kualitas kesehatan ditengah badai migrasi yang banyak. Salah satunya adalah membangun sarana infrastruktur Puskesmas dimana tahun 2020 semuanya sudah rawat inap, kemudian membangun RS Tipe C di Rengasdengklok dan rumah sakit khusus paru dari DBHCT Rp180 miliar di Jatisari, sehingga kalau ada Stunting akan diselesaikan tuntas dan cepat. “Di kita ada 13 stunting, tapi 10 diantaranya membantah saat saya kunjungi,” ujarnya.

Dilanjutkannya, upaya pencegahan stunting ada tiga, selain ketersediaan pangan dan pola asuh, juga tidak kalah pentingnya adalah sanitasi.
Hadir dalam kegiatan tersebut, selain para kepala OPD juga nampak para pejabat di lingkungan Dinas Kesehatan, perwakilan Dirut RS Hasan Sadikin Bandung dan Dirut RSUD Karawang. (rud)


Berita lainnya...