My Chevening Journey

Kamis, 07-November-2019 351 viewer


Setiap kali mendengar kata “dokter”, umumnya yang terbayang di benak masyarakat adalah sosok berjas putih di rumah sakit yang telaten menangani pasien. Bagi saya pribadi, peran seorang dokter tidak terbatas di pelayanan kesehatan saja. Dokter juga harus bisa memberikan edukasi kesehatan di lingkungan sekitar, baik di masyarakat maupun di lingkungan profesi. Edukasi yang diberikan tentu tidak terbatas pada pencegahan penyakit. Edukasi dapat berupa penelitian yang bersifat komprehensif, menggabungkan aspek kedokteran dan sains. Kedua bidang tersebut saling berkaitan, bahkan dalam penanganan pasien sehari-hari. Sayangnya, masih ada gap antara dunia kedokteran dan sains. Di luar negeri, dokter yang juga memiliki keahlian di bidang sains disebut clinician-scientist. Menurut Mukesh K. Jain et al (NEJM 2019), hybrid tersebut tergolong langka, bahkan terancam “punah”. Hal tersebut memotivasi saya untuk bisa menghubungkan keduanya, sehingga pelayanan kesehatan yang lebih baik dapat terwujud.

Saya merupakan alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK Unpad) angkatan 2009. Selama kuliah, saya berprinsip untuk melakukan yang terbaik. Bukan hanya tentang IPK, tetapi juga dalam kehidupan sosial. Saya diberi kesempatan untuk meraih IPK cum laude, menjadi salah satu Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) FK Unpad tahun 2012, aktif berorganisasi, dan terpilih mewakili Unpad pada konferensi London International Model United Nation (LIMUN) tahun 2013. Tempat pelaksanaan LIMUN saat itu adalah di Imperial College London, salah satu universitas top 10 dunia. Saya amazed dengan Imperial dan berujar, “I will be here again someday, as a Master student!

Diperlukan waktu 5,5 tahun untuk menamatkan pendidikan kedokteran, namun perjuangan tidak berhenti sampai di situ. Saya memutuskan untuk meneruskan praktik selama tiga tahun di rumah sakit umum daerah dan salah satu UPT Kementerian Kesehatan. Di sisi sains, saya mencoba berlatih membuat case report, poster, dan presentasi oral. Selama bekerja sebagai dokter umum, saya tertarik mendalami ilmu penyakit dalam, terutama imunologi. Imunologi merupakan cabang ilmu medis yang mempelajari daya tahan tubuh. Saya tertarik mendalami bidang tersebut karena sebagian besar penyakit yang terjadi melibatkan gangguan daya tahan tubuh. Saya pun bergabung dengan Pusat Studi Imunologi FK Unpad pada tahun 2017. Saya memegang beberapa proyek penelitian bersama dokter-dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS). Saya belajar banyak, mulai dari membuat perizinan penelitian, mengembangkan desain penelitian, mengambil dan mengolah data, kolaborasi dengan banyak pihak, dan tentunya, belajar menulis jurnal ilmiah. Selama satu tahun saya bekerja, sudah lima publikasi yang kami hasilkan bersama.

Berbekal background akademik, profesional, kemampuan networking, dan leadership, saya mencoba mengikuti seleksi beasiswa Chevening pada tahun 2017 lalu. Chevening adalah beasiswa global yang diberikan oleh pemerintah Inggris untuk melanjutkan S2 di negara tersebut. What makes it special adalah mereka tidak hanya menyeleksi kandidat dengan latar belakang akademik dan leadership yang baik. Chevening menjaring para profesional yang telah memiliki pengalaman kerja minimal dua tahun. Latar belakang tersebut menjadikan beasiswa ini sangat kompetitif. Hanya top 1% scholars yang dipilih dari negara masing-masing untuk melanjutkan S2 di Inggris.

Proses seleksi beasiswa dimulai dari seleksi administratif berupa essay dengan beberapa topik khusus, transkrip akademik, pengalaman kerja, organisasi, tes kemampuan bahasa Inggris (IELTS), surat penerimaan masuk di universitas luar negeri (Letter of Acceptance/LoA), dan rekomendasi dari tokoh masyarakat. Terkait LoA, masing-masing universitas memiliki persyaratan yang berbeda. Saya memperoleh LoA dari Imperial College London setelah submit berkas seperti motivation letter, transkrip akademik, rekomendasi tokoh masyarakat, dan lain-lain. Ternyata peminat jurusan Immunology di Imperial College mencapai ratusan pendaftar, akan tetapi yang diterima oleh kampus kami hanya 30 orang. Saya sangat bersyukur dan mencoba untuk lanjut daftar beasiswa Chevening.

Setelah dinyatakan lolos seleksi administratif, saya dipanggil oleh The British Embassy di Jakarta untuk melaksanakan interview. Interview tersebut dilakukan oleh perwakilan Foreign and Commonwealth Office (Kementerian Luar Negeri dari United Kingdom), tokoh masyarakat, dan alumni Chevening. Selama interview, saya semakin paham mengapa beasiswa Chevening menjaring para profesional. Pertanyaan yang diajukan memang detail dan membahas tuntas visi, misi, dan plan of action kami ke depannya. Saya berusaha menjawab secara realistis, namun tetap sejalan dengan big picture yang ada di pikiran saya.

Pengumuman final dilaksanakan beberapa bulan sebelum keberangkatan ke Inggris. Saya sama sekali tidak menyangka akan terpilih menjadi Chevening scholar tahun 2018. Disampaikan oleh Duta Besar Britania Raya untuk Indonesia pada tahun keberangkatan saya, Mr. Moazzam Malik, bahwa pendaftar Chevening di Indonesia mencapai 4000 orang. Jumlah scholar angkatan saya yang dapat berangkat ke Inggris hanya 68 orang. Literally 1% of the total applicants!

Saya bersyukur diberi kesempatan untuk melanjutkan S2 di Imperial College London dengan beasiswa Chevening. Selain memberikan full fund untuk seluruh biaya kuliah (kecuali program MBA) dan biaya hidup di Inggris, kami juga diberi tiket pesawat pulang-pergi Indonesia-Inggris dan tidak perlu membayar visa studi! Kami pun mendapatkan kesempatan priceless lain berupa networking dengan para profesional dari 141 negara yang ikut serta dalam program beasiswa Chevening. Studi di Inggris dengan kultur yang kondusif juga turut mendukung kami untuk bisa menyelesaikan kegiatan perkuliahan dengan baik. Selain akademik, kegiatan sosial lainnya seperti Perhimpunan Pelajar Indonesia di United Kingdom (PPI UK) juga memfasilitasi kami untuk memperluas networking dan berkontribusi bagi masyarakat Indonesia. Selama studi S2, saya juga dipercaya memegang amanah sebagai Kepala Unit Kesehatan di PPI UK. Merupakan perjuangan tersendiri untuk tetap seimbang dalam akademik, sosial, dan tentu saja, have fun. Saya tetap menyempatkan diri untuk travelling bersama teman-teman, baik di dalam dan luar Inggris. This is indeed one of the greatest moments in my life.

Saat ini saya sudah lulus dari Imperial dan melanjutkan kembali visi-misi di Indonesia. Kembali ke poin awal, saya ingin menjadi clinician-scientist yang menghubungkan dunia kedokteran dan sains. Kolaborasi yang baik juga perlu dikembangkan antara Unpad dengan pihak eksternal. Setelah sidang S2, saya sempat membawakan salah satu result disertasi dalam bentuk poster di International Academy of Clinical Hematology Congress, Paris, Prancis. Tidak hanya menyertakan afiliasi Imperial, saya juga berusaha membawa nama baik Unpad dalam presentasi tersebut. Kontribusi dari diaspora dapat dimulai dalam bentuk apapun. Kolaborasi salah satunya.

Semoga untuk ke depannya semakin banyak mahasiswa/i maupun alumni yang terinspirasi untuk berkontribusi bagi negara. Apapun passion-nya, do it with your whole heart. Rezeki akan datang menghampiri hamba-Nya yang berusaha keras. Best of luck!

Sasfia Candrianita, dr., MSc, DIC

Alumnus FK Unpad angkatan 2009

Alumnus Chevening dan Imperial College London 2018/19


Artikel lainnya...

Mohon maaf, informasi tidak ditemukan...